Blog

Segi Delapan…., Bentuk Yang Banyak Digunakan di Gedung Al-Zaytun

Bentuk segi delapan yang bermakna delapan penjuru angin. Di Mahad Al-Zaytun segi delapan selalu tampil di setiap komponen bangunan. Termasuk dalam foto kali ini di dinding Asrama dan Gedung Pembelajaran.

Di sisi tangga Asrama An-Nuur terpasang diding berlubang ini merpakan perpaduan batu-bata segi delapan yang disusun rapi. Dinding ini bukan hanya indah tapi juga bermanfaat untuk sirkulasi udara.

Advertisements

Menelusuri Jalan AlBasiah dari Asrama An Nuur Menuju Gadung Masyikhah

Albasiah atau Albasia adalah nama pohon sejenis kayu keras yang sering di tanam baik secara tradisional maupun dibudidayakan di perkebunan. Saat ini banyak pebisnis kayu yang menanam Albasia dengan budidaya dan perawatan yang modern.

Jalan Albasiyah dari Gedung Masyikhah Menuju Arah Asrama An Nuur dan Asrama Persahabatan

Di Mahad Al Zaytun ada jalan yang namanya Jalan Albasiyah. Jalan ini menghubungkan Gedung Masyikhah ke Pabrik Pengolahan Air, Gadung Asrama An Nuur dan Asrama Persahabatan.

Begitu keluar dari Asrama An Nuur menuruni jalan landa langsung memasuki Jalan Albasiyah.

Jalan ini hanya diperbolehkan untuk kendaraan satu arah yaitu arah dari Gedung Masyikhah ke Asrama Persahabatan. Bukan hanya kendaraan bermesin tapi juga sepeda. Rambu jalan sudah dipasang dengan rapi dan di patuhi oleh seluruh penghuni Mahad Al Zaytun. Sepanjang jalan ini dilarang parkir kendaraan.

Sisi-sisi  jalan ditanami pohon Sawo Kecik, Akasia, Eucaliptus, Mahoni dan Trembesi. Pohon Trembesi adanya di ujung sebagai pintu gerbang Asrama An Nuur, seolah seperti dua penjaga yang gagah dan selalu siap dengan badan yang tinggi kekar menjulang karena

Pohon Trembesi adalah pohon yang rindang dengan cabang-cabangnya yang melebar. Seperti payung hidup yang melindungi dari sengatan matahari dan sangat menyejukan. Sementara di gerbang An Nuur juga ada dua Pohon Kemuning yang menyambut ketika kita memasuki Asrama An Nuur.

Dipertengahan ada perempatan jalan, Jalan Melati menuju Asrama Al Mustofa dan Jalan Kecapi menuju Pabrik Pengolahan Air Minum serta Kantor Unit Transportasi.

Pagi yang cerah di jalan Al Basiah. Seorang berepeda dari Arah Gedung Masyikhah menuju Arah Asrama An Nuur.

Jalan Albasiah selalu bersih. Meskipun dikanan kiri ditanam pepohonan yang daunnya tiap hari berguguran, namun secara berkala disapu bersih dengan mobil penyapu jalan.

Tidak perlu tenaga manusia yang banyak… dengan alat yang modern maka tenaga manusia bisa di minimalkan dan lebih efisien.

Dilarang parkir sepanjang Jalan Albasiah
Perempatan jalan, ke kanan Gang Melati arah ke Asrama Al Mustofa, Kantin Umum dan Palagan Agung, ke kiri Gang Kecapi arah Kantor Transportasi dan Pabrik Pengolahan Air Minum Hammayim.
Gang Kecapi

 

Jalan Albasia…..bersih dan indah…setiap hari selalu dilewati karyawan yang melaksanakan apel pagi di Gedung Masyikhah.

Semoga bermanfaat.

 

Singgah di Kamar 402 Asrama An Nuur

Hidup adalah perjalanan, dan hanya sedikit tempat yang bisa saya singgahi di alam semesta ini. Allah telah menciptakan Bumi yang begitu luasnya dan alam semesta yang tak bisa diukur berapa luasnya. Semakin sadar bahwa kita hanyalah mahluk kecil di hadapanNya.

Sudah satu tahun lebih saya menempati Asrama An Nuur kamar 402. Tak terasa setahun rasanya sangat cepat. Waktu tak terasa dilewati hari demi hari….tahu-tahu sudah setahun lebih. Berbagai kenangan silih berganti…. berbaur dengan kesibukan dan semua kegiatan yang terus dijalani.

Selasar Lantai 4 Asrama An Nuur dilihat dari depan kamar 402 cerah sekali terkena sinar matahari pagi.
Selasar sebelah kanan pintu kamar 402 menuju tangga yang setiap hari saya lewati menuju tempat aktifitas.

Kenangan yang akan selalu diingat :

  • Setiap malam selalu terdengar suara Burung Malam yang berteriak melengking. Namanya saja Burung Malam maka kerjanya di malam hari mencari makan. Mereka menangkap tikus dan serangga lain yang keluar malam. Burug Malam menjadi teman setia di tiap malam dengan suaranya yang mungkin masih ada orang yang merasa takut mendengarnya.
  • Setiap jam 03.30 sudah berkumandang bacaan ayat suci Al-Qur’an yang di kumandangkan dari Kamar 130. Sampai menjelang Adzan Shubuh Ustadzah sudah sibuk membangunkan santri untuk bersiap-siap Sholat Shubuh berjama’ah di Masjid Al-Hayat.
  • Jam 06.00 – 06.30 batas akhir santri harus sudah berangkat semuanya ke ruang pembelajaran. Berulangkali Ustadzah mengingatkan santri untuk segera berangkat, jangan lupa matikan lampu kamar dan membawa sampah ke lantai satu untuk diangkut oleh petugas kebersihan.
  • Yang ramai ketika tiba-tiba mati listrik. Serentak santri-santri berteriak “huuuuuuuu…….” Suasana jadi ramai bersautan antar santri dari semua kamar. Yang tadinya tenang menjadi hiruk pikuk dibuatnya. Seruuuuuuuuu……..!

Begitulah sekilas kenangan di Asrama An Nuur kamar 402. Semua tidak perlu berlama-lama sebab selalu diadakan perubahan dan perbaikan. Demi Manajeman Asrama yang lebih baik saya dan kawan-kawan mesti menempati kamar lain. Menyusun hari yang lebih baik, membuat kenangan lain di tempat yang berbeda.

Bayangan Asrama Persahabatan memantul di kaca jendela kamar 402 Asrama An Nuur.
Cahaya matahari pagi yang cerah.

Kamar 402 berarti letaknya di lantai 4. Setiap pagi jika cuaca cerah dan matahari terbit maka deretan lantai 4 yang saya singgahi ini mendapatkan banyak sekali sinar matahari pagi. Suasana segar dan hangat. Segara karena kandungan oksigen yang terpenuhi maksimal. Matahari menembus rindangnya dedaunan di depan asrama yang berasal dari pohon Eucaliptus yang tinggi menjulang.

Memanda Asrama Persahabatan.
Kamar 402 menghadap bagian samping Asrama Persahabatan

Kamar 402 menghadap langsung ke bagian samping Asrama Persahabatan.  Dibatasi oleh pepohonan yang tinggi dengan daunnya yang rimbun. Udara segar penuh oksigen, dan kicauan burung setiap hari dari pagi hingga sore tak berhenti.

Pagi hari selalu disambut kicau Burung Kutilang. Tak berhenti bersahut-sahutan….. sebab mungkin jumlah burungnya ada ratusan ekor atau bahkan ribuan ekor Kutilang. Agak siang sedikit biasanya ganti dengan kicau Burung Tekukur da Perkutut.

Indah !

Selamat Jalan….. Sahabatku !

Selamat jalan sahabatku Mustofa bin Jaman…kembali ke pangkuan Allah SWT dalam usia 38 tahun. Semoga amal ibadahnya diterima, diampuni segala kesalahannya dan ditempatkan di SurgaNya.

Hari ini Jum’at, 12 Mei 2017 sahabat saya Mustofa telah wafat. Saya hanya bisa mengirimkan do’a dalam Sholat Ghaib di Mahad Al Zaytun semoga mendapatkan tempat terbaik disisiNya.

Tiap yang berjiwa pasti mengalami kematian. Itulah hidup kita…suatu saat kematian pasti akan kita alami. Entah kapan waktunya, entah dimana tempatnya dan entah apa penyebabnya.

Satu hal yang bisa kita lakukan adalah berbuat baik, laksanakan perintahNya dan jauhi laranganNya. Sekarang disaat kita masih sehat lakukan amaliah sebagaimana mestinya. Sebab disaat kita sakit kita tak berdaya. Dan saat ajal mendatangi, tak ada lagi kesempatan untuk melakukan sesuatupun. Bahkan mengucap kalimat tauhidpun belum tentu bisa dilafazkan.

Kematian adalah nasehat bagi kita yang masih hidup. Peringatan penting, bahwa suatu saat kita akan mengalaminya. Selalu kita berkemas diri…., agar kita selalu siap kapanpun malaikat menjemput. Saya sendiri merasa masih banyak yang harus aku lakukan dan segera diselesaikan. Agar saatnya meninggalkan dunia ini sudah menyelesaikan urusannya dengan manusia.

Sahabat….mari kita terus perbaiki diri kita…, tidak peduli kita masih muda ataupun sudah tua, kaya atau miskin, dalam kondisi sehat apalagi kalau sedang sakit.

 

Awal Untuk Memulai Lebih Berat daripada Akhir Sebuah Perjalanan

Mengawali segala sesuatu terasa lebih berat. Bukan hanya mengawali sebuah pekerjaan, perjalanan, usaha dan juga mengawali membuat blog. Meskipun ada pandangan lain yang bisa meringankan tapi kadang saya lupa…. yang sering diingat saya merasa tertinggal dengan orang lain yang lebih dulu sukses.

Padahal seharusnya tidak demikian. Sebab sukses dan belum sukses memang sudah menjadi takdir dari Allah Yang Maha Kuasa. Kita bisa lihat ada orang yang masih muda sudah sukses dengan kariernya ada yang sudah beranjak tua tapi baru akan mulai. Semuanya butuh semangat agar tidak terasa berat.

Bagaimanapun juga hidup ini harus kita nikmati seperti apapun  keadaan kita. Jika kita baru mau memulai perjuangan …. nikmatilah sebagai awal  untuk mendapatkan apa yang kita perjuangkan.  Meskipun awal lebih berat daripada akhir, mari kita coba untuk merubah persepsi bahwa awal dan akhir adalah sesuatu yang indah.

Orang sukses dimulai dengan perjuangan dan pengorbanan. Sesuatu menjadi besar berawal dari kecil. Maka jangan pernah merasa malas untuk memulai walaupun orang lain sudah jauh lebih besar, lebih sukses, lebih hebat dari kita.

Mari kita mulai melangkah. Langkah kecil jika dilakukan terus menerus akan mampu menempuh perjalanan yang jauh dan sangat panjang.